TUHAN TIDAK PERLU DIBELA

Apa yang ada dibenak anda ketika membaca judul tulisan di atas? Mungkin ada yang marah, kesel, geram dan sejenisnya. Mungkin ada juga yang menuduh bahwa judul tulisan ini melecehkan salah satu agama. Waduh, sepertinya rada kontroversial bahkan cenderung provokatif ya? Salah-salah, saya bisa dituduh sebagai orang kafir bahkan atheis sekalian. Hehe. Tapi sabar dulu, teman. Jangan menduga-duga, jangan mengira-ngira. Lebih baik baca sampai tuntas tulisan ini, setelah itu marilah kita renungkan bersama-sama.

Judul tulisan tersebut sama dengan judul sebuah buku yang ditulis KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yakni “Tuhan Tidak Perlu Dibela” yang diterbitkan oleh LkiS (1999). Isi bukunya sendiri berisi kritik mendasar terhadap pengetahuan, pemikiran, dan gerakan yang ditampilkan oleh komunitas Muslim yang saat itu lebih senang menampilkan sosok sektarianisme. Lebih lanjut, buku ini mencerminkan sikap Gus Dur untuk mengedepankan semangat kebersamaan, keadilan, dan kemanusiaan serta demokratisasi dalam menyikapi berbagai perkembangan dalam kehidupan sosial politik di Indonesia. Intinya, buku ini mengajak kita untuk menampilkan sikap arif dalam hidup untuk tidak banyak mencela pemahaman agama orang lain, sekaligus menghormatinya dalam kerangka demokrasi dan hak asasi manusia.

Namun, saya tidak akan membahas lebih jauh tentang buku ini. Yang menarik perhatian saya adalah judul buku yang cenderung kontroversial itu. Memang, selama ini Gus Dur cenderung “menyimpang” dari tata nilai kehidupan umum di masyarakat. Hingga akhirnya setelah memahami dengan hati yang lapang, mendadak saya tertawa sendiri. Judul buku yang ditulis Gus Dur itu ternyata tidak salah. Bahkan, saya berani menjamin bahwa judul buku itu 100 persen benar. Judul tulisan di atas bukan mencerminkan pelecehan terhadap suatu agama tertentu. Bukan pula ucapan seorang yang kafir atau cenderung atheis. Bukan, tetapi justru merupakan sebuah ungkapan hati yang tulus dari seorang hamba di hadapan Tuhannya. Gus Dur sepertinya sengaja membalik logika berpikir kita selama ini. Cenderung kontroversial, tetapi setelah dipikir-pikir, ucapannya (atau yang dia tulis) ternyata masuk akal juga.

Coba renungkan, teman. Judul tulisan ini ternyata sejalan dengan akidah tauhid yang kita pegang selama ini. Bahkan sudah diajarkan ketika masih duduk di bangku sekolah masa kanak-kanak dulu. Kita diajarkan bahwa Tuhan Maha Segalanya. Andaikan semua manusia di muka bumi ini tunduk beribadah kepada-Nya, maka hal ini tidak akan menambah kesempurnaan Tuhan yang memang telah sempurna. Begitu juga sebaliknya. Andaikan semua manusia itu membangkang alias tidak patuh kepada-Nya, maka hal itu tidak akan menurunkan derajat kesempurnaan-Nya sedikit pun. Karena Dia adalah Tuhan, Maha dari Segala Maha. Pemiliki Segala Sesuatu. Maka sudah sepantasnya kalau Dia tidak perlu dibela atau tidak memerlukan pembelaan kita sebagai makhluk-Nya. Yang perlu dibela sebenarnya adalah kita, manusia. Tuhan tidak memerlukan hal itu karena Dia Maha Sempurna.

Logikanya gini. Anda adalah seorang manusia (termasuk juga saya, hehehe). Jika banyak orang yang memuji anda, patuh pada anda, maka secara otomatis gengsi anda naik. Anda benar-benar dikagumi. Tetapi disaat lain, ketika semua orang mencela anda, menjelekkan anda, tidak patuh lagi kepada anda, maka anda baru saja kehilangan gengsi anda di mata mereka. Begitu bukan? Dan Tuhan bukanlah manusia. Jika Dia perlu pembelaan, berarti dia bukan tuhan tetapi manusia juga seperti kita. Tuhan sudah Maha Sempurna, dan tidak memerlukan pembelaan makhluk-Nya sedikit pun.
Lalu bagaimana jika agama kita, nama Tuhan kita dihina, dicacimaki dan sejenisnya? Apakah kita hanya diam saja hanya gara-gara kalimat “Tuhan Tidak Perlu Dibela”? Mmm… tentu tidak. Mungkin orang yang melakukan hal ini adalah dikarenakan belum memahami benar hakikat agama yang kita anut. Lebih baik kita beri pemahaman dengan cara yang baik (ma’ruf), bukan dengan cara radikal, seperti kekerasan yang membabi buta. Agama diciptakan bukan untuk sebuah kekacauan, tetapi justru untuk kebaikan umatnya (rahmatan lil ‘alamin). Namun, jika setelah diberi pengertian, mereka masih saja ‘membandel’, maka serahkan segalanya kepada Sang Pemilik Segala, Tuhan Yang Maha Esa. Karena hanya Dialah yang membolak-balikkan hati manusia.

Lebih lanjut, semua ibadah yang kita lakukan bukanlah bertujuan untuk menaikkan derajat kesempurnaan Tuhan, tetapi sebenarnya untuk kita sendiri. Tuhan, hakikatnya bukan memerlukan kita untuk menyembah-Nya, tetapi manusialah yang perlu untuk menyembah-Nya. Semua amal ibadah kita akhirnya akan kembali pada diri kita sendiri, bukan untuk Tuhan. Makanya ada surga dan neraka yang sengaja dipersiapkan untuk umat manusia di akhirat kelak. Manifestasi ibadah yang kita lakukan hendaknya merupakan sebuah bentuk rasa syukur kita kepada-Nya. Semacam ungkapan terima kasih kepada sang Maha Pencipta karena telah diberi nikmat yang begitu banyak. Maka tidaklah salah jika ada ungkapan yang mengatakan kalau ibadah bukanlah sebuah kewajiban, tetapi merupakan sebuah kebutuhan yang harus kita prioritaskan, seperti halnya kebutuhan primer manusia. Maka tak jarang dalam kisah-kisah sufistik, begitu banyak para sufi yang rela meninggalkan “dunia” hanya untuk menikmati kelezatan beribadah kepada-Nya.

Sekali lagi, kita hanyalah manusia, makhluk yang lemah di hadapan Tuhan Yang Maha Sempurna. Dia tak perlu dibela karena Dia Maha Kuasa. Pembelaan yang kita lakukan kepada-Nya hanyalah merupakan suatu bentuk manifestasi ibadah yang akan kembali untuk diri kita sendiri. Maka masih pantaskah kita angkuh dan membanggakan diri, padahal sebenarnya kita bukanlah apa-apa.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

MELIPATGANDAKAN KEYAKINAN

Seorang pejuang sewaktu berlabuh di suatu tanah impian pada Juli 711M, langsung memerintahkan pasukannya untuk membakar seluruh kapal milik mereka sendiri. Tujuannya hanya untuk menanamkan keyakinan pada dirinya dan pasukannya yang berjumlah 12.000 orang, “Kita tidak mungkin mundur! Kita harus menguasai daerah ini!” Berbekal keyakinan sempurna itu mereka berhasil menguasai daerah tersebut dan mendirikan peradaban diatasnya, dimana peradaban itu berkilau dan memukau selama 700 tahun.

Terlepas dari itu, dengan keyakinan yang benar dan kesabaran yang benar, satu orang dapat menghadapi dua sampai sepuluh orang sekaligus (QS. 8: 65-66). Perlu diketahui, ini yang menjanjikan adalah Allah. Hendaknya janji Allah ini mampu melipatgandakan keyakinan Anda. Misalnya, dalam konteks bisnis. Dimana perusahaan kecil mampu menggusur perusahaan besar. Perusahaan anyar mampu menggeser perusahaan lawas. Sudah terlalu banyak contoh di luar disana. Nah, apa rahasianya? Nomor satu, yah itu tadi, keyakinan. Soal aset, akses, teknik, dan lain-lain, boleh nyusul.

Siapapun maklum, kejayaan dan kedigdayaan perusahaan bukan cuma ditentukan oleh produk yang inovatif, harga yang kompetitif, distribusi yang intensif, ataupun promosi yang masif. Bukan cuma itu! Yang penting ialah keyakinan individu-individu dalam perusahaan itu.

Keyakinan inilah yang membuat bisnis bergerak, omzet melonjak, dan laba menanjak. Seberat apapun tantangan, sebesar apapun tantangan tetap bisa dilewati dengan keyakinan.

Bicara soal keyakinan, kadang kita kalah telak dengan Iblis. Ini bukan sindiran, tapi kenyataan. Iblis jelek-jelek gitu masih punya yang namanya keyakinan.

• Iblis meyakini bahwa Allah itu Maha Kuasa. Iblis meyakini bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil. Bayangkan, sebagian manusia masih membantah dan menyanggah, “Ini mustahil, itu mustahil!”

• Iblis menyakini bahwa Hari Pembalasan itu memang ada. Bayangkan, masih ada manusia yang meragukan dan mempertanyakan.

• Iblis meyakini bahwa surga dan neraka itu memang ada. Bukankah mereka pernah berada di surga dan manusia belum tentu akan berada di surga?

• Hanya saja, keyakinan Iblis berbeda dengan keyakinan manusia. Karena Iblis telah bersumpah untuk menyesatkan manusia sampai akhir zaman dan sumpah ini telah diperkenankan oleh Allah, maka Iblis tidak akan memperoleh manfaat sedikit pun dari keyakinannya itu.

Kita manusia, Kita jauh lebih mulia daripada Iblis. Bahkan kita lebih mulia daripada malaikat. Sudah semestinya kita mengusung keyakinan yang lebih menjulang ketimbang Iblis.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Bahasan Seminar Purdi E. Chandra Mengenai Otak Kanan

Saya menemukan artikel berikut dari salah satu website, namun maaf sekali saya lupa menyertakan nama websitenya. Jika ada yang tahu alamat website nya, beritahu saya di posting. Artikel ini sangat menarik perhatian saya, selain membuat saya tersenyum sendiri tetapi juga memberikan pandangan yang luar biasa mengenai pencapaian kesuksesan yang membuat banyak orang kagum dan bertanya – tanya.

Purdi E. Chandra, pendiri Primagama dan Entrepreneur University adalah pembicara utama dalam seminar yang mengangkat tema “gila” beberapa waktu lalu, maka setiap ungkapan yang dikemukakan Purdi terasa “gila” dan membuat peserta tertawa. Dalam seminarnya itu dia menitikberatkan pada kekuatan OTAK KANAN manusia dalam mencapai kesuksesan. Mari kita simak isi pembicaraan di seminarnya :

Purdi : Saya masuk kuliah di empat universitas tapi tidak selesaikan kuliah. Tapi saya juga heran kenapa bisa dirikan Primagama, sebuah lembaga bimbingan belajar terbesar di Indonesia yang cabangnya sampai ratusan. Padahal saya tidak terlalu pintar-pintar amat. Makanya saya berpikir kalau kita terlalu pintar menyebabkan terlalu banyak pertimbangan, yang akhirnya tak ada sama sekali yang bisa dikerjakan. Makanya mungkin alangkah baiknya anak kita jangan terlalu
pintar. ( Hadirin tertawa . . . )

Purdi : Anak saya yang di SMP ranking 11 langsung minta mobil. Ini sudah luar biasa dibandingkan sebelumnya yang ranking 20-an. Dia juga mau jadi pengusaha. Lihat saja banyak orang pintar tapi tidak mau kerja. Untuk mau menjadi pengusaha jangan terlalu banyak pertimbangan. Laksanakan saja niat itu dan tunggu hasilnya. Coba lihat pakar akuntansi tidak mau berusaha karena apa. Yah itu tadi karena mereka belum berusaha sudah takut jadi pengusaha, karena mereka sudah mempelajari dulu hitung-hitungan menjadi pengusaha yang mengerikan makanya mereka takut sebelum berusaha. Lalu kenapa orang mau jadi pengusaha. Saya kira Jaya Setiabudi sudah memaparkan banyak tadi. Yah jadi pengusaha itu misalnya gini, saya merasa tiap hari kerjanya apa. Paling kalau ada yang mau ditandatangani baru muncul. Makanya yang perlu diketahui calon pengusaha tidak usah muluk-muluk kalu sudah bisa tanda tangan yah bagus-lah. ( Hadirin tertawa . . . )

Purdi : Pengusaha itu tidak perlu tinggi-tinggi sekolah, karena yang mereka perlukan hanya tahu tanda tangan dan mengingat bentuk tanda tangannya jangan sampai salah tanda tangan satu dengan lainnya. Selain itu, pengusaha kebanyakan dari orang malas. Sebab orang yang sudah pintar itu diperebutkan sama perusahaan untuk menjadi karyawan. Makanya yang jadi pengusaha itu dulunya orang malas. Orang malas sebenarnya bukan hal yang negatif karena melihat pengalaman selama ini, kebanyakan mereka yang jadi pengusaha. Nah, orang pintar akan dibutuhkan pengusaha sebagai tulang punggung perusahaan. Misalnya, saya sebagi Direktur, banyak pegawai saya adalah para doktor, sementara saya tamat kuliah juga tidak. Paling saya membuat akademi perguruan tinggi dan memanggil para doktor mengajar di tempat saya dan gelar saya dapat dari akademi saya sendiri.

Setelah berbicara bahwa seorang pengusaha tak harus pintar, pendiri lembaga pendidikan Primagama dan Entrepreneur University, Purdie E Chandra, mengupas pembicaraan mengenai fungsi otak kanan sebagai salah satu tips menjadi pengusaha, berikut beberapa petikannya.

Purdi : Untuk menjadi pengusaha memang harus sedikit “gila”. Lebih gila lagi kalau teman-teman tidak mau jadi pengusaha. ( Hadirin tertawa . . . )

Purdi : Untuk menjadi seorang pengusaha pakailah otak kanan Anda. Kalau perlu jangan gunakan sama sekali otak kiri. Kenapa harus otak kanan? Ini yang lucu karena otak kanan mengajarkan kita hal yang tidak rasional. Berbeda dengan otak kiri, ia memberitahukan sesuatu yang rasional, teratur, dan berurut-urut. Misalnya begini, murid SD disuruh kreatif sama gurunya. Ia disuruh membuat gambar pemandangan. Karena dari dulu gambar pemandangan yang ia tahu hanya yang ada gunung lalu dibawahnya jalan raya dan sungai, maka sampai dia SMU pun hanya gambar itu yang ia tahu. Ketika
diperintahkan menggambar pemandangan. Ini keteraturan tapi tidak ada kreativitas. Kalau ada otak kanan maka ia akan memberitahukan sesuatu yang lebih kreatif. Lalu, apakah Anda mau dari dulu jadi karyawan terus menerus, tidak kreatif ingin menjadi pengusaha dan punya karyawan. Atau begini, anda bangun setiap pagi, mandi, naik angkot ke kantor, bekerja lalu menjelang sore pulang ke rumah setelah itu tidur dan besoknya lagi ke kantor. Itu dijalani selama belasan tahun bahkan sampai kakek-nenek. Dan sama sekali terbatas waktu yang sebanyak- banyaknya dengan orang luar yang lain dari yang dibayangkan. Itulah keteraturan dan yang mengatur semua itu adalah otak kiri. Apakah Anda mau seperti itu seterusnya? Makanya gunakanlah otak kanan. Mau jadi pengusaha biasakanlah otak kanan Anda yang bekerja. Dan Anda tak perlu setiap hari ke kantor dan pulang sore. Kenapa tangan kanan kita selalu bergerak? Karena yang menggerakan adalah otak kiri makanya teratur hasilnya. Lalu, apakah kita harus seperti anak SD terus yang hanya pintar
menggambar pemandangan satu model yang diajarkan gurunya? Otak kanan tidak banyak hitungan atau pertimbangan macam-macam. Ia lebih banyak mengerjakan apa yang dipikirkannya. Kalau mau usaha jangan terlalu banyak hitung-hitungan. Waktu bikin banyak usaha saya tidak banyak hitung-hitungan dan Alhamdulillah sukses. Saya kira banyak
pengusaha lain yang seperti itu. Lihat saja beberapa orang terkaya di dunia tidak sampai selesai kuliahnya, Bill Gates misalnya bahkan dia menjadi penyokong dana utama Harvard University (Universitas ternama dunia di Amerika). Ibaratkan kita mau jadi pengusaha itu sama seperti ketika hendak masuk kamar mandi. Kenapa? Karena masuk kamar mandi kita tidak berpikir – pikir… kalau kebelet… yah langsung masuk saja. Terserah di dalam kamar mandi “sukses” atau tidak itu urusan belakang. Kalau di dalam kamar mandi tidak ada sabun kan kita akhirnya keluar juga dan ada upaya untuk
mencari. Orang terkadang akan mencari sesuatu apapun yang menurutnya mendesak dengan berbagai cara. Kalau pun pada saat itu tidak ada sabun di rumah ia akan berusaha untuk mencari sabun sampai dapat. Untuk latih otak kanan tidak
perlu sekolah-sekolah tinggi. Anak saya yang SMP sekarang kalau bukan karena takut ditanya calon mertua kelak, mungkin dia sudah berhenti sampai SMP saja. Jangan sampai calon mertua nanti tanya, “anaknya lulusan apa?” ( Hadirin tertawa . . . )
Sekian.

Cerita di atas menambah satu lagi daftar bukti bahwa kekuatan otak kanan seseorang ikut berperan besar dalam menunjang kesuksesan. Tidak diragukan lagi bukan? Betapa hebatnya kemampuan otak kanan anda.
Berikut saya tampilkan perbedaan fungsi antara otak kiri dan otak kanan anda,

Otak kiri :
Menggunakan logika
Berorientasi pada rincian (detail)
Bahasa dan kata – kata
Masa kini dan masa lalu
Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Mengetahui
Susunan / Pandangan Pada Pola
Mengetahui nama objek
Realitas (Berdasar kenyataan)
Strategi dan Bentuk
Lebih kepada praktek (melakukan)
Mengutamakan rasa aman

Otak kanan :
Menggunakan perasaan
Simbol dan gambar
Masa kini dan masa depan
Filosofi dan agama
Kepercayaan
Sifat Menghargai
Pandangan mengenai ruang
Mengetahui fungsi objek
Imajinasi (Berdasar fantasi)
Kemungkinan
Keras
Berani ambil resiko

Cukup sampai sini artikel bahasan saya mengenai otak kanan. Sebenarnya saya hanya ingin menitikberatkan bahwa otak kanan seseorang dan penggunaan The Secret sangat berhubungan. Bukti – bukti yang saya sudah tulis hanya untuk menyita perhatian anda agar tidak meremehkan kemampuan terbesar otak kanan anda.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

SHOLAT

Ramadhan sudah sampai hari ke lima belas.
Malam ini aku sholat tarawih di Mushola Al Habib, mayoritas warga sholat di Masjid Al Falah di tengah desa yang lebih besar dan pusat dari kegiatan agama. Jamaah di Musholla Al Habib tidak terlalu banyak, hanya ada 4 saf masing-masing 2 saf pria dan wanita memenuhi ruangan 6×7 meter itu. Imam malam itu Mbah Amat, badannya sudah bungkuk, dialah pemilik tanah yang diwakafkan untuk mushola ini, entah tahun 70an lampau. Suaranya bergetar mengikuti umurnya yang sudah renta. Mbah Amat ini tiap pagi masih rajin ke sawah dengan memanggul paculnya. Sekali waktu aku berpapasan di jalan kusapa, lebih sering tidak menoleh karena pendengarannya pun sudah kurang peka.
Malam itu aku datang duluan, ketika sholatpun aku dapat posisi tepat dibelakang mbah Amat, langsung dibelakang sang imam.
Selesai sholat Isya, mbah Amat membalikkan badan, dia ingin menyampaikan kultum rupanya. Posisi dudukku yang persis dibelakangnya menjadikanku hanya berjarak satu langkah. Dengan suara yang terbata-bata dan masih lantang, dia memberikan kultum dalam bahasaya Jawa, sesekali pandangan matanya ke arahku, orang yang paling dekat dengan duduknya.
Begini kultumnya aku artikan dalam bahasa Indonesia..
“poro sederek, Sholat itu bukan hanya sekedar kita mengadapkan badan ke arah kiblat, tapi hati dan pikiran kita kemana-mana! Kita sering sholat sudah mengucapkan Allahu Akbar, tapi pikiran kita ada di jalan, pikiran kita tertinggal di rumah, pikiran entah dimana. Padahal kita sedang berhadapan dengan Gusti Allah! Padahal cara gampang untuk khusuk adalah hafalkan bacaan sholat dan artinya! Ketika mulutmu mengucapkan Allahuakbar, hatimu membenarkan bahwa Gusti Allah Maha Besar… Gusti Allah sik paling kuoso..” suara mbah Amat berat dan mantab!
Aku seperti kembali menjadi anak TPA yang baru belajar mengaji, tamparannya mengena dengan apa yang aku alami, betapa kadang kala ketika kesibukan mendera, dunia melenakan, badan ini sholat tapi fikiran entah kemana, terbang memikirkan pekerjaan dan dijerat kesibukan.
“buat apa sholat, jengkang jengking tapi kalo kita tidak paham hakekat sholat! Sholat ngebut seperti dikejar setan hanya untuk mendapat label ‘aku sudah sholat’ tapi hatimu tidak pernah menghadap Gusti Allah! Badanmu bergerak tapi hatimu mati.. ayo mulailah Sholat dengan khusuk! Engkau sedang menghadap Tuhanmu! Gusti Allah yang menciptakanmu…”
—————————————
 Sholat Tarawih di mulai…
Mbah Amat mengangkat tangan dengan takbir, aku ikuti setiap bacaannya, aku berusaha fokus mengingat arti ayat yang kubisa, kulafalkan dalam hati tembus ke ubun-ubun..
-Di kutip dari blog milik Mas Saptuari http://www.saptuari.blogspot.com-
Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

TABUNGAN DI KUBURAN

“Hartamu yang tidak pernah habis adalah yang kau belanjakan di jalan Allah”

Ada sebuah masjid kecil dipinggir jalan, kebutuhan ini harus kutunaikan. Aku sholat di pendopo luar masjid yang sunyi itu. selesai di rakaat terakhir aku tercenung dengan apa yang ada di depanku, sebuah kotak infak yang berbentuk seperti batu nisan kuburan. Bentuknya yang unik seolah-olah mengingatkan jamaah, “hayooo nabung, ini yang akan menemanimu di kuburan nanti”

Aku tersenyum, takmir tidak perlu bikin tulisan himbauan untuk sedekah. Bagi yang terbuka hatinya, kotak infak ini sudah bercerita dengan jelasnya ketika dia diedarkan ketika sedang Jumatan. Seorang guru pernah mengingatkan, “menabunglah engkau disetiap Masjid yang engkau singgahi, kapan saja engkau sholat disitu. Jadikan Masjid itu ladangmu menanam benih pahala, hingga dia akan bercerita untukmu di akhirat sana.”

Seorang Kyai Nahdlatul Ulama  juga pernah mengingatkan, ada 3 hal yang akan menemani manusia di Kubur sana, yaitu : Doa anak yang Sholeh, Ilmu yang Bermanfaat yang diajarkan, dan Amal Jariyah. Hanya itu saja ternyata. Sebelum amal sholeh dihisab, tiga hal itu yang pertama menemani di Alam Kubur.

Aaah, semoga Pak Kyai benar, menabung di Masjid yang dikunjungi bisa menjadi sedekah dan amal jariyah yang menemani di kubur nanti. Aku dan kamu pasti mengerti, di Kubur tidak ada laptop untuk internetan dan Blackberry, sepi hanya kita sendiri.

 

 

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

KANJENG NABI

saatnya belajar berterimakasih kepada Sang Pencerah kehidupan

Kanjeng Nabi yang kumaksud adalah Kanjeng Nabi Muhammad SAW, Nabi terakhir yang diturunkan Allah di dunia. Sejak kecil aku sudah dikenalkan dengan beliau, buku-buku pelajaran Agama Islam yang kubaca sejak SD banyak mengupas tentang beliau. Hanya saja aku tidak pernah melihat wajahnya, apalagi sempat mencium tangannya. Beliau hidup terpisah 16 Abad yang lalu, disebuah negeri yang berjarak ribuan kilometer dari tempat tinggalku. Akupun tidak pernah menemukan gambaran wajah kanjeng Nabi, gambar-gambar kartun yang beredar di internet terlalu sangar untuk wajah beliau yang digambarkan oleh pak guru katanya sangat  teduh dan bercahaya.

Kanjeng adalah panggilan untuk orang yang dihormati dalam bahasa Jawa. Panggilan ini untuk mengangkat orang yang dipanggil agar memiliki kedudukan terhormat di mata dan di hati. Ada kanjeng sultan, kanjeng bupati, kanjeng romo (bapak). Semua panggilan berbau tempo doeloe tapi masih indah untuk diucapkan. Budaya yang baik tidak harus selalu dianggap kuno dan ditinggalkan, bagaimanapun tanpa leluhur kita semua tidak pernah ada di dunia. Mereka yang menjadikan kita anak keturunan hingga berabad-abad lamanya.

Ajaran Kanjeng Nabi di tanah Arabia sana bisa sampai ke nusantara lewat pedagang Arab dan Gujarat tempo dulu, lalu para wali, sunan, ulama menyebarkan ke seluruh penjuru negeri. Kanjeng sunan Kali Jaga mengajarkan Islam yang membumi. Beliau mengajarkan Islam lewat wayang dan kesenian, agar Islam mudah diterima di masyarakat yang masih banyak menganut agama Hindu waktu itu.

———————————-
Malam itu aku bermimpi naik haji.

aku ada di tanah suci, di Madinah, berdiri sendiri di depan makam Kanjeng Nabi di Masjid Nabawi. aneh, sepi tidak ada orang di kanan kiri.Aku tidak pernah mempunyai kesempatan melihat wajah beliau, aku juga belum pernah mencium tangan beliau. Tapi hari ini aku ingin menyapa Kanjeng Nabi langsung di depan jasad manusia mulia ini.

“Duh, Kanjeng Nabi, Saya ini adalah pengikutmu dari negeri yang jauuuuuuh dari tempat ini. Rumah saya berjarak puluhan ribu kilometer dari tempatmu ini, melintasi laut samudra, gunung gurun, padang rumput dan hutan belantara.
Kanjeng Nabi, saya dikenalkan tentangmu oleh orang tua dan guru-guru sejak saya kecil dulu, mereka mengenalkan tanpa pernah menunjukkan rupa bentuk dan raut wajahmu, wajah Kanjeng Nabi hanya saya pahami dan saya kenali dari angan-angan dan imajinasi mimpi.
Duh, Kanjeng Nabi, Islam di negeri saya sekarang besar sekali, dulu para wali yang mengajarkan teladanmu yang berhembus hingga ratusan tahun, Islam masuk dari pantai hingga ke kampung-kampung. Mencerahkan hati puluhan, ratusan, ribuan hingga jutaan manusia di negeri kami. Ini kabar baik untukmu ya kanjeng Nabi, Mereka adalah Umatmu.. Umatmu.. Umatmu..
Kanjeng Nabi Muhammad,  Saya hidup di tahun yang terpisah 16 Abad dari masamu, hari ini dunia majuuu sekali hingga orang bisa berinteraksi dari berbagai penjuru bumi. Kami datang ke tanah ini juga tidak lagi naik kapal dan onta lagi. Sebuah pesawat yang besar sekarang membawa kami terbang ke sini.
Ya Kanjeng Nabi, Saya sampai hari ini masih malu jika besok pagi mati apakah masih layak dapat syafaat dan pembelaanmu. Sholat yang Kanjeng Nabi ajarkan kadang masih telat saya kerjakan. Sedekah yang saya lakukan kadang masih berbau busuk dan jauh dari keihklasan. Saya kadang masih melupakan Allah ketika pekerjaan, kesempitan, dan kekurangan membuat hati mengeras, jiwa meradang dan lupa pada semua ajaranmu. Saya malu kepada guru-guru ngaji, kepada bapak-ibu yang mengajari, kepada para ulama dan para wali. Saya maluuuu pada Kanjeng Nabi. Saya maluuuuu pada Gusti Allah Illahi Robbi…
Duuuuh Kanjeng Nabi, Saya pamit pulang hari ini, menuju tanah Jawa tempat hidup saya mengabdi.. ijinkan saya membayangkan mencium tangan dan memeluk kanjeng Nabi, berilah saya kekuatan hati untuk berjuang menjalankan semua ajaran mulia yang kau berikan sebagai warisan paling berharga untuk kami.
dari tanah yang jauuuuh kami akan kirimkan shalawat, juga untuk para sahabat, setiap kami tunaikan sholat…
Kanjeng Nabi Muhammad… Saya nyuwun pamit….”

Aku terbangun dari tidurku, mataku sembab, cahaya pagi muram sekilas terlihat, aku sholat Subuh terlambat.

 

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

ARTI SEBUAH KESETIAAN

(Kisah Nyata Yang Membuat Setiap Orang Meneteskan Air Matanya Pada Acara Kick Andy)

Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri REKSADANA di Indonesia dan juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini.

Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Karena ada sisi kesehariannya yang luar biasa !

Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.

Dari sinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang ke empat. tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia letakkan istrinya di depan TV agar istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya sudah tidak dapat bicara tapi selalu terlihat senyum. Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.

Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari…saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu ‘agar semua anaknya dapat berhasil’.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata: “Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu.” Sambil air mata si sulung berlinang.

“Sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”. Si Sulung melanjutkan permohonannya.

”Anak-anakku, Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian….*sejenak kerongkongannya tersekat*… kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini ? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Allah kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang dalam keadaan sakit.” Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya.

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu……

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa….disaat itulah meledak tangisnya dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.

Disitulah Pak Suyatno bercerita : “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 anak yang lucu-lucu..Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…” Sambil menangis

”Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya…”BAHWA CINTA SAYA KEPADA ISTRI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH”.

Itulah cerita/Kisah Paling Mengharukan yang semoga dapat menjadi teladan bagi anda yang sudah menikah bahwa cinta sejati bukan memandang dari mata, tapi dari hati.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar